PENDIDIKAN ANAK USIA
DINI
PENGANTAR
BAB
I PENDIDIKAN ANAK
USIA DINI
- Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
- Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
BAB
II TUMBUH KEMBANG ANAK
- Pengertian
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
- Aspek-aspek
Pertumbuhan dan Perkembangan pada Anak
·
Perkembangan Intelektual (Intellectual
Development)
·
Perkembangan Fisik (Physical Development)
·
Perkembangan sosial-emosional (social-emotional
development)
·
Perkembangan Kemampuan Anak dalam Berkomunikasi untuk
mengekspresikan keinginannya
- Fase
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (Usia 1 bulan sampai 5 tahun)
BAB
III KECERDASAN DAN POTENSI ANAK
- Pengertian kecerdasan
- Macam-macam kecerdasan
- Cara Mengetahui Kecerdasan Anak
- Mengetahui Kecerdasan Anak dengan Cara yang
Sederhana
BAB
IV PEMBELAJARAN BAGI ANAK USIA
DINI
- Pembelajaran Melalui Bermain
- Mengetahui Gaya Belajar Anak
- Konsep Pengajaran yang Tepat Bagi Anak Usia Dini
- Metode Pembelajaran yang Tepat Bagi Anak Usia
Dini
BAB
V TIPS PRAKTIS MELEJITKAN KECERDASAN DAN POTENSI ANAK
- Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Melejitkan
kecerdasan dan Potensi Anak
- Melejitkan Kecerdasan Majemuk Anak
- Melejitkan kecerdasan dan kreativitas anak
- Melatih kemampuan otak dalam mengingat
1. Tips
Praktis agar ingatan kuat
2. Tips
Mendongeng untuk bayi
PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
Pengantar
Arti pentingnya pendidikan dini pada anak
telah menjadi perhatian internasional. Dalam pertemuan Forum Pendidikan Dunia
tahun 2000 di Dakkar, Senegal, telah menghasilkan enam kesepakatan sebagai
kerangka aksi pendidikan untuk semua (The Dakkar Frame work for Action
Education for All) yang salah satu butirnya menyatakan: “Memperluas dan
memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini (PAUD),
terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung.”
Anggapan bahwa pendidikan baru bisa
dimulai setelah usia Sekolah Dasar yaitu usia 7 tahun ternyata tidaklah benar.
Bahkan pendidikan yang dimulai pada usia Taman Kanak-kanak (4 - 6 tahun) pun
sebenarnya sudah terlambat. Menurut hasil penelitian di bidang neurologi
seperti yang dilakukan oleh Dr. Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari
Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa pertumbuhan sel
jaringan otak pada anak usia 0 - 4 tahun mencapai 50%. Artinya bila pada usia
tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak
tidak akan berkembang secara optimal.
Adalah suatu kenyataan bahwa selama ini
perhatian terhadap pendidikan anak usia dini masih sangat rendah bila
dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama negara maju. Padahal belajar
dari pengalaman negara maju, konsep pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM)
justru dimulai sejak masa usia dini. Pengembangan anak usia dini yang mencakup
aspek gizi, kesehatan, dan pendidikan dilakukan secara intensif dan utuh sejak
anak dilahirkan.
Di Singapura dan Korea misalnya, hampir
seluruh anak usia dini telah terlayani PAUD. Di Malaysia, pelayanan PAUD
mencakup 70% anak. Bahkan di Singapura masalah penuntasan dua bahasa, yaitu
bahasa Cina dan Inggris, telah terselesaikan di tingkat TK. Hal ini terbukti
dengan peringkat ketiga negara tersebut dalam hal kualitas SDM jauh lebih baik
daripada negara kita yang berada di peringkat 110 (Singapura, Korea Selatan dan
Malaysia masing-masing berada di peringkat 25, 27 dan 59).
Hasil penelitian di Baylor College of
Medicine menyatakan bahwa lingkungan memberi peran yang sangat besar dalam
pembentukan sikap, kepribadian, dan pengembangan kemampuan anak secara optimal.
Anak yang tidak mendapat lingkungan baik untuk merangsang pertumbuhan otaknya,
misalnya jarang disentuh, jarang diajak bermain, jarang diajak berkomunikasi,
maka perkembangan otaknya akan lebih kecil 20 - 30% dari ukuran normal
seusianya.
Secara keseluruhan hingga usia 8 tahun,
80% kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk, artinya kapasitas kecerdasan
anak hanya bertambah 30% setelah usia 4 tahun hingga mencapai usia 8 tahun.
Selanjutnya, kapasitas kecerdasan anak tersebut akan mencapai 100% setelah
berusia sekitar 18 tahun. Oleh sebab itu, masa kanak-kanak dari usia 0 - 8
tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam
perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang
pertumbuhan otak anak melalui perhatian kesehatan anak, penyediaan gizi yang
cukup, dan pelayanan pendidikan.
Menurut psikologi perkembangan dan
berdasarkan riset neurologi tentang pertumbuhan otak, usia dini meliputi anak
yang berusia 0 - 8 tahun. Dalam hal ini, pendidikan anak usia dini merupakan
konsep tentang perlakuan dini terhadap anak yang berada pada usia prasekolah
atau usia sekolah yaitu di kelas-kelas awal SD (kelas 1, 2 dan 3). Namun dalam
hal ini pembahasan mengenai anak usia dini dibatasi mulai usia 0 - 5 tahun
sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun
2003 pasal 1 ayat 14 dan pasal 28 ayat 1 bahwa pendidikan anak usia dini
diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Buku yang ada di tangan anda ini akan
membahas tentang pengertian PAUD dan pentingnya PAUD, tumbuh kembang anak, pengertian
pertumbuhan dan perkembangan anak, aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan anak,
serta fase-fase pertumbuhan dan perkembangan anak dalam tiap bulannya mulai
1-60 bulan (5 tahun). Buku ini juga akan membahas tentang kecerdasan atau
potensi anak, pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak yaitu melalui
bermain, serta tips dan trik praktis dalam melejitkan kecerdasan dan potensi
anak.
BAB
I
PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
A. Pengertian
Pendidikan Anak Usia Dini
Pengertian pendidikan anak
usia dini sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003
pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa:
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Batasan lain mengenai usia
dini pada anak berdasarkan psikologi perkembangan yaitu antara usia 0 – 8
tahun. Di samping istilah pendidikan anak usia dini terdapat pula terminologi
pengembangan anak usia dini yaitu upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau
pemerintah untuk membantu anak usia dini dalam mengembangkan potensinya secara holistic,
baik aspek pendidikan, gizi, maupun kesehatan.
Undang-undang Sisdiknas
tahun 2003 pasal 28 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini dapat
diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal (Taman Kanak-kanak, Raudatul
Athfal, atau bentuk lain yang sederajat), jalur pendidikan nonformal (Kelompok
Bermain, Taman Penitipan Anak, atau bentuk lain yang sederajat), dan/atau jalur
pendidikan informal yang berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang
diselenggarakan oleh lingkungan.
Sehubungan dengan
kenyataan yang telah disebutkan sebelumnya, maka anak-anak yang tersentuh
pendidikan dini yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal masih
sangat minim jumlahnya. Berkenaan dengan hal tersebut di atas maka sewajarnya
bila peran Pendidikan Luar Sekolah – yang mencakup pendidikan nonformal dan
informal – dalam memberikan pelayanan pendidikan dini pada anak-anak yang tidak
memperoleh pendidikan di jalur pendidikan formal sangatlah penting dan
mendesak.
Berdasarkan karakteristik
di atas maka pendidikan prasekolah telah diakui sebagai bagian dari pendidikan
sepanjang hayat. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Worth, W.H. (Cropley,
A.J., 43) yang mengemukakan bahwa pendidikan tidak boleh menolak anak di bawah
umur 6 tahun dan menganjurkan pendidikan anak-anak awal yang disebutnya “Early
Ed”. Ia mengemukakan tiga tujuan pokok “Early Ed”, yang meliputi perlengkapan
stimulasi, membantu pemahaman identitas, dan menciptakan pengalaman sosialisasi
yang tepat.
Aspek terpenting anjuran
Worth ialah pendidikan anak usia dini sebagai fase pertama sistem pendidikan
seumur hidup. Ia menyarankan bahwa tujuannya harus memuat pengembangan
keterampilan untuk mendayagunakan informasi dan simbol-simbol, meningkatkan
apresiasi bermacam-macam mode ekspresi diri, memelihara keinginan dan kemampuan
berpikir, menanamkan keyakinan setiap anak tentang kemampuannya untuk belajar,
membantu perasaan harga diri, dan akhirnya, meningkatkan kemampuan untuk hidup
dengan orang lain. Worth melihat pendidikan anak usia dini meliputi variable
yang kompleks dalam bidang kognitif, motivasi dan sosio affektif yang jika
berkembang dengan tepat akan menjadi basis pemenuhan diri dalam kehidupan.
Dengan demikian Worth mengakui pentingnya pendidikan anak-anak usia prasekolah
sebagai salah satu fase pendidikan seumur hidup.
B.
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa
masa usia dini merupakan periode emas bagi perkembangan anak dimana 50%
perkembangan kecerdasan terjadi pada usia 0 – 4 tahun, 30% berikutnya hingga
usia 8 tahun. Periode emas ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak
dimana perkembangan yang didapatkan pada periode ini sangat berpengaruh
terhadap perkembangan pada periode berikutnya hingga masa dewasanya. Periode
ini hanya datang sekali dan tidak dapat ditunda kehadirannya, sehingga apabila
terlewat berarti habislah peluangnya. Hal inilah nampaknya yang masih banyak
disia-siakan oleh sebagian besar masyarakat. Akibatnya, berdampak terhadap
kesiapan anak memasuki jenjang persekolahan.
Pada periode kritis ini
anak memerlukan berbagai asupan terutama yang mencakup aspek gizi, kesehatan,
dan pendidikan yang merupakan pilar utama pengembangan anak usia dini,
mengingat ketiga aspek ini sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas anak di
kemudian hari.
Kesadaran masyarakat akan
pentingnya gizi dan kesehatan bagi anak lebih tinggi daripada kesadaran akan
pentingnya pendidikan. Padahal penanganan masalah gizi dan kesehatan saja tidak
cukup, melainkan harus dilengkapi pula dengan penanganan pendidikannya sebagai
kesatuan yang utuh dan terpadu. Sebagai contoh, program penanggulangan masalah
kekurangan gizi dan kesehatan dasar untuk survival memang sangat
diperlukan, tatapi apa arti survival bila kemampuan dasar intelektual
dan psikososialnya rendah, tentu nantinya hanya akan menjadi beban orang lain
bukan?
Oleh sebab itu, sudah
saatnya memasukkan aspek pendidikan dalam program anak usia dini sehingga
ketiganya menjadi satu kesatuan intervensi yang utuh, walaupun belum dapat
menjangkau semua anak. Sebagai contoh, keberhasilan program posyandu dalam
pelayanan perbaikan gizi dan kesehatan dasar, akan lebih lengkap apabila
ditambah dengan layanan stimulasi pendidikan bagi para balitanya. Sedangkan
untuk paket yang lebih intensif, program layanan gizi dan kesehatan dapat
diintegrasikan dengan program Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, atau
TK/RA. Dengan demikian diharapkan semua kegiatan yang melibatkan anak usia dini
perlu sentuhan ketiga aspek tersebut.
BAB II
TUMBUH KEMBANG ANAK
A. Pengertian
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Kata pertumbuhan sering dikaitkan dengan
kata perkembangan sehingga ada istilah tumbuh kembang. Ada pendapat yang
mengatakan bahwa pertumbuhan merupakan bagian dari perkembangan. Namun
sebenarnya pertumbuhan dan perkembangan adalah dua hal yang berbeda. Pertumbuhan
adalah perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh, misalnya bertambah
berat badan, bertambah tinggi badan, bertambah lingkaran kepala, bertambah
lingkar lengan, tumbuh gigi susu, dan perubahan tubuh yang lainnya yang biasa
disebut pertumbuhan fisik.Pertumbuhan dapat dengan mudah diamati melalui
penimbangan berat badan atau pengukuran tinggi badan anak. Pemantauan
pertumbuhan anak dilakukan secara terus menerus dan teratur.
Adapun perkembangan adalah
perubahan mental yang berlangsung secara bertahap dan dalam waktu tertentu,
dari kemampuan yang sederhana menjadi kemampuan yang lebih sulit, misalnya
kecerdasan, sikap, tingkah laku, dan sebagainya. Proses perubahan mental ini
juga melalui tahap pematangan terlebih dahulu. Bila saat kematangan belum tiba
maka anak sebaiknya tidak dipaksa untuk meningkat ke tahap berikutnya misalnya
kemampuan duduk atau berdiri.
Pertumbuhan dan perkembangan masing-masing anak berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat, tergantung faktor bakat (genetik), lingkungan (gizi dan cara perawatan kesehatan), dan konvergensi (perpaduan antara bakat dan lingkungan). Oleh sebab itu perlakuan terhadap anak tidak dapat disamaratakan, sebaiknya dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pertumbuhan dan perkembangan masing-masing anak berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat, tergantung faktor bakat (genetik), lingkungan (gizi dan cara perawatan kesehatan), dan konvergensi (perpaduan antara bakat dan lingkungan). Oleh sebab itu perlakuan terhadap anak tidak dapat disamaratakan, sebaiknya dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Psikologi perkembangan
adalah teori yang mempelajari perkembangan manusia dari lahir sampai dewasa
atau tua. Psikologi perkembangan berarti juga perubahan yang sistematis dalam
diri seseorang mulai dari konsepsi (pertemuan sel telur dengan sperma) sampai
kematian. Sedangkan psikologi perkembangan anak (Early Childhood Development)
hanya mempelajari perkembangan manusia sejak lahir sampai dengan usia 8 tahun.
B. Aspek-aspek
Pertumbuhan dan Perkembangan pada Anak
Secara garis besar
aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan pada anak dapat dikelompokkan menjadi
empat yaitu: Perkembangan Intelektual (Intellectual Development),
Perkembangan Fisik (Physical Development), Perkembangan sosial-emosional
(social-emotional development), dan Perkembangan kemampuan anak dalam
berkomunikasi untuk mengekspresikan keinginannya (language development).
1.
Perkembangan Intelektual (Intellectual
Development)
Menurut berbagai
penelitian di bidang neurologi terbukti bahwa 50% kapasitas kecerdasan anak
terbentuk pada kurun waktu 4 tahun pertama sejak kelahirannya. Pada saat anak
mencapai usia 8 tahun maka perkembangan otak anak telah mencapai 80% hingga
pada usia 18 tahun mencapai 100%. Usia 0 – 8 tahun merupakan masa emas
perkembangan anak sebab 80% perkembangan otak berada pada rentang usia
tersebut.
Otak merupakan benda yang
paling vital dalam tubuh. Organ ini mengatur seluruh bagian dalam tubuh
diantaranya gerakan motorik, pengaturan suhu tubuh, pengaturan tekanan darah,
sekresi hormon, pernapasan, emosi dan berbagai macam kegiatan manusia.
Pada saat anak dilahirkan,
anak sudah dibekali Tuhan dengan struktur otak yang lengkap, namun baru
mencapai kematangannya pada saat setelah di luar kandungan. Bayi yang baru
dilahirkan memiliki 100 miliar neuron dan bertriliun-triliun sambungan
antar neuron. Melalui persaingan alami akhirnya sambungan-sambungan yang
jarang digunakan akan mengalami atrofi.
Pemantapan sambungan terjadi apabila neuron mendapatkan informasi yang mampu menghasilkan letupan-letupan listrik. Letupan tersebut merangsang bertambahnya produksi myelin yang dihasilkan oleh zat perekat glial. Semakin banyaknya zat myelin yang diproduksi maka semakin banyak dendrit-dendrit yang tumbuh, sehingga akan semakin banyak synapse yang berarti lebih banyak neuron-neuron yang menyatu membentuk unit-unit. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung dari banyaknya neuron yang membentuk unit-unit.
Pemantapan sambungan terjadi apabila neuron mendapatkan informasi yang mampu menghasilkan letupan-letupan listrik. Letupan tersebut merangsang bertambahnya produksi myelin yang dihasilkan oleh zat perekat glial. Semakin banyaknya zat myelin yang diproduksi maka semakin banyak dendrit-dendrit yang tumbuh, sehingga akan semakin banyak synapse yang berarti lebih banyak neuron-neuron yang menyatu membentuk unit-unit. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung dari banyaknya neuron yang membentuk unit-unit.
Otak manusia bersifat hologram
yang dapat mencatat, menyerap, menyimpan, mereproduksi dan merekonstruksi
informasi. Kemampuan otak yang dipengaruhi oleh kegiatan neuron ini
tidak bersifat spontan, tetapi dipengaruhi oleh mutu dan frekuensi stimulasi
yang diterima indra. Stimulasi pada tahun-tahun pertama kehidupan anak sangat
mempengaruhi struktur fisik otak anak, dan hal tersebut sulit diperbaiki pada
masa-masa kehidupan selanjutnya. Implikasinya adalah bahwa anak yang tidak
mendapatkan stimulasi psikososial seperti jarang disentuh atau jarang diajak
bermain akan mengalami berbagai penyimpangan perilaku. Penyimpangan tersebut
dalam bentuk hilangnya citra diri yang berakibat pada rendah diri, sangat
penakut, dan tidak mandiri, atau sebaliknya menjadi anak yang tidak memiliki
rasa malu dan terlalu agresif.
Stimulasi psikososial
untuk merangsang pertumbuhan anak tidak akan memberikan arti bagi masa depan
anak jika derajat kesehatan dan gizi anak tidak menguntungkan. Pertumbuhan otak
anak ditentukan oleh bagaimana cara pengasuhan dan pemberian makan serta
stimulasi anak pada usia dini yang sering disebut critical period ini. Gizi
yang tidak seimbang maupun gizi buruk serta derajat kesehatan anak yang rendah
akan menghambat pertumbuhan otak, dan pada gilirannya akan menurunkan kemampuan
otak dalam mencatat, menyerap, mereproduksi dan merekonstruksi informasi. Di samping
itu, rendahnya derajat kesehatan dan gizi anak akan menghambat pertumbuhan
fisik dan motorik anak yang juga berlangsung sangat cepat pada tahun-tahun
pertama kehidupan anak. Gangguan yang terjadi pada pertumbuhan fisik dan
motorik anak, sulit diperbaiki pada periode berikutnya, bahkan dapat
mengakibatkan cacat yang permanent
Konsep di atas menuntut
adanya pengintegrasian aspek psiko-sosial/pendidikan, gizi dan kesehatan dalam
proses tumbuh kembang anak atau dengan kata lain anak mendapatkan layanan dasar
secara holistik.
Dalam perkembangan anak, pada saat-saat tertentu dapat terjadi kemandegan tugas-tugas perkembangan (discontinuity), misalnya karena sakit, namun setelah masa ini berlalu ada tugas perkembangan yang bisa dikejar dan ada pula yang tidak bisa dikejar sama sekali.
Dalam perkembangan anak, pada saat-saat tertentu dapat terjadi kemandegan tugas-tugas perkembangan (discontinuity), misalnya karena sakit, namun setelah masa ini berlalu ada tugas perkembangan yang bisa dikejar dan ada pula yang tidak bisa dikejar sama sekali.
Melatih Keseimbangan Otak Kanan-Kiri
Otak manusia terdiri atas
belahan otak kiri dan kanan. Otak kiri berkaitan dengan fungsi akademik yang
terdiri atas kemampuan berbicara, kemampuan mengolah tata bahasa, baca tulis,
daya ingat (nama, waktu dan peristiwa), logika, angka, analisis, dan lain-lain.
Sementara otak kanan tempat untuk perkembangan hal-hal yang bersifat artistik,
kreativitas, perasaan, emosi, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, khayalan,
warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, pengembangan kepribadian.
Para ahli banyak yang mengatakan otak kiri sebagai pengendali IQ (Intelligence
Quotient), sementara otak kanan memegang peranan penting bagi perkembangan EQ
(Emotional Quotient) seseorang.
Aktivitas yang telah
terbukti meningkatkan hubungan belahan otak biasanya adalah aktivitas yang
menggunakan kedua bagian tubuh secara bersamaan. Pola bersilang yang kita semua
gunakan saat berjalan atau berenang dan bayi gunakan ketika mereka merangkak,
mengembangkan dan menguatkan hubungan diantara belahan otak. Yang dimaksud
dengan pola bersilang adalah gerakan ketika kita menggerakkan tangan kanan dan
kaki kiri kita maju ke depan, dan kemudian tangan kiri dan kaki kanan.
Penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang anak yang otaknya cedera dan tidak
merangkak, mendapat beberapa kecacatan dan dengan melatih aktivitas merangkak,
mereka menunjukkan perbaikan yang mengejutkan.
Aktivitas lain yang
membantu menyeimbangkan belahan otak adalah berenang. Aktivitas ini bisa
dilakukan di usia sedini mungkin. Orang tua bisa mengajak anak berenang
bersama, karena kegiatan ini selain dapat menyehatkan tubuh juga dapat
meningkatkan fungsi otak.
Selain itu, permainan
berlari dan merangkak yang menyenangkan juga bisa membantu anak. Jika Anda
mempunyai beberapa orang anak, dorong mereka untuk bermain tangkap bola
bersama. Ini adalah latihan yang baik dan membantu kecerdasan mereka. Berjalan
dan berlari adalah aktivitas yang alami yang menggunakan pola bersilang dan
sangat berguna dalam menyeimbangkan belahan kanan dan kiri otak.
Secara statistik,
kebanyakan orang menggunakan tangan kanannya, namun ada banyak juga orang yang
kidal. Aktivitas yang baik untuk melatih keseimbangan koordinasi otak kanan dan
kiri adalah dengan melatih tangan yang lebih lemah. Bila anak Anda tangan
kanannya dominan, latih tangan kirinya, bisa dengan melatih menulis atau
menangkap dengan tangan kiri, demikian sebaliknya. Berlatih selama beberapa
menit sehari dapat memberikan dampak yang besar.
Aktivitas lain yang sangat
produktif untuk anak adalah bermain drum. Dengan belajar bermain drum, anak
akan menggunakan kedua tangannya secara bergantian. Bermain drum dapat
menguatkan ingatan audio anak, meningkatkan hubungan otak dan juga pengenalan
akan pola.
Bersambung..............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar